[1]. I’ve just read The Secret by Rhonda Byrne. Tak salah bila Oprah W memuji habis-habisan buku ini. Pada buku ini, saya pun melontarkan bahsa gaul anak gaul: ‘Wah, ini buku gue banget’ ; bahwa segala apa yang kita dapatkan, baik itu cinta, karir, dan pernik-pernik pencapaian hidup lainnya itu sejatinya lahir dari ‘pikiran dan imajinasi positif’ yang pernah kita pikirkan sebelumnya. Bila pikiran positif itu terus kita rawat baik-baik di benak kita, maka alam semesta akan mendukung untuk mewujdkannya. Inilah yang dirumuskan dengan The Law  of Attraction. Pada titik inilah, saya dedahkan, inilah sebuah buku yang menyimpan banyak inspirasi. So, I suggest u to read it as soon as possible!

[2] Baru saja kutandaskan karya Dr. Raghib As-Sirjani berjudul Spiritual Reading, Hidup Lebih Bermakna Dengan Membaca  (Ini versi terjemahan penerbit Aqwam Jembatan Ilmu, Maret 2007).  Saya kira pemilihan judul tersebut sebuah strategi menyiasati pasar Indonesia agar membeli buku ini. Memang terdengar catchy di telinga ketimbang judul aslinya: Iqra’ La Budda an Taqraa, al-Qiraatu minhajulhayatYah, bacaan sebagai Minhajulhayah [paradigma hidup] -lah sekiranya yang ingin diusung penulis buku Misteri Shalat Shubuh ini bersama co-author-nya: Amir Al-Madari. Bahwa membaca adalah sebuah paradigma hidup, konsep hidup, sebuah sunnatullah yang tak bisa diabaikan, sama halnya seperti makan dan minum. Membaca pada titik ini bukan lagi sekadar hobi semata, ia sudah menjadi kebutuhuan primer dalam nafas kita. Ia menjadi sunnatullah yang harus kita kerjakan bila ingin hidup lebih bermakna. Saya jadi teringat ucapan Remy Sylado dalam novel Ca Bau Kan. Beberapa kali dia menyinggung perbedaan kita, manusia,  dengan hewan , adalah membaca buku. Bukankah makan, minum, dan seks juga menjadi kebutuhan sehari-hari binatang, lalu apa bedanya kita dengan binatang bila kita tidak membaca? Hmmmmmm.Karena itulah Dr. Raghib dengan bukunya ini, saya kira sangat tepat mengingatkan kita sebagai manusia, khusunya muslim,  untuk menjadikan membaca sebagai minhajulhayah. Saya setuju dengan Raghib. Bahkan, menurut saya, dengan membaca, secara tidak langsung, kita menjalankan sunnah Nabi yang agung. Bukankah Rasulullah mendapat wahyu pertama agar kita membaca. ‘Iqra!’ demikian tuturunya dalam surat al-Alaq. Lebih dari itu, di beberapa hadits lain, ia malah menguatkan kita untuk menuntut ilmu. Dengan apakah kita menuntut ilmu kalau tidak dengan membaca. Dengan membacalah, kita sebagai muslim dapat mengalahkan peradaban unggul zionis-Yahudi hingga ia tak lagi berkata: “Aku tidak takut dengan umat Islam, sebab mereka umat yang tidak mau membaca.”Data dari Dr. Raghib menyebutkan bahwa setiap tahun rata-rata orang jepang menghabiskan bacaan 40 buku, sedang bangsa Eropa 20 buku, dan bangsa Arab hanya 20 halaman saja. Dan Asia, termasuk Indonesia, berapa? Belum ada riset yang pasti.   Kisah kecil ihwal buku sebagai sahabat terbaik:Seorang ulama pernah ditanya, “Siapakah orang yang membuat Anda merasa bahagia dan senang?” Maka ia pun memegangi buku-bukunya, lalu berkata: “Buku-buku ini”.  Kemudian, ia ditanya lagi, “Dari kalangan manusia?” Ia menjawab , “Orang-orang yang ada di dalamnya.” Cibubur, 21 Juni 2007Selepas Subuh

3. The Stranger by Albert Camus

4. Ihya Ulumuddin by Imam Gazhali

5. Musyawarah Burung by Faridudin Attar

6. Mastnawi by J. Rumi

7. Psikilogi Agama by KH. Jalaluddin Rahmat

8. Alchemist by PAulo Coelho

9. Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer

10. Dll

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.