“Allahumma rabbii nabiyyi muhammadin, ighfirly dzanby, wa azhib ghaizha qalby, wa ajirny min mudhilatil fitan…”

[Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kemarahan dari dalam hatiku, dan selamatkanlah aku dari segala (bahaya) kesesatan segala bentuk fitnah [puncak amarah].

             Seorang pria paruh baya dan segenggam riwayat kelam dendamnya. Katakanlah namanya H. Misbah, pengusaha sukses yang saya kenal pribadinya lantaran persentuhan saya dengan  dunia perbukuan. Kepada saya, H. Misbah berkisah dengan mata nanar dan bibir bergetar-getar.             “Sa..ya tak habis pikir. Ia menikam saya dari belakang! Istri saya sendiri, wanita yang sudah melahirkan dua anak. Ia bercinta dengan lelaki lain di saat saya sedang bertugas ke luar daerah! Bukankah ia tahu saya mencari nafkah untuknya, untuk anak-anaknya? Wanita jalang itu kabur dengan pria muda! Sejak itu, saya tak mau melihat wajahnya. Berat hati saya memaafkanya…”              Dan siapakah yang darahnya tak mendidih, mengetahui pasangan jiwanya berkhianat? Siapakah yang hatinya tak merintih-rintih, mendapati teman hidupnya menikam cintanya dari belakang? Begitulah H. Misbah dan mungkin juga Anda. Ia yang saya kenal berkali-kali pergi haji itu, tiba-tiba, menjadi pribadi keras dan getas setiap mengenang tajuk perselingkuhan itu.                Belakangan, saya tersadar,  H. Misbah ternyata menyebar luka  itu, dendam itu, ke setiap orang yang dekat dengannya. Kepada saya sendiri, ia sudah entah kesekian kali mengisahkannya. Saya tahu H. Misbah tidak sendiri, dan ia pun bukan orang pertama yang meriwayatkan dendamnya ke dalam memori saya.              Saya tercenung; Ilahi, dari bahan apakah kau ciptakan ‘dendam’ itu? Apakah rasa getir yang kerap mengoyak jiwa manusia ini bagian dari skenario-Mu? (more…)

Di bibirmu, aku merekam sejarah kata

Iqra!

Huruf per huruf

Kukatup gincu jingga-Mu

Dengan alif-ba-ta membara.

Kemudian gerimis sepi menitis,

Di ujung dahan yang perawan: inilah alif-lam-mim-ku!

Pelan, perlahan, matamu menujumkan seteguk senyum yang belum sempat kucium, kuminum. Aku menunggu sebongkah hijaiyyah-Mu.

 

14 April 2003, Kamar  Malena.

Zadig, namamu membuatku abadi bersama sebungkus senja[i] yang kau berikan di pantai Ulu Watu, di suatu sore itu.

“Kuserahkan sebungkus senja ini sebagai hadiah valentinmu karena besok hanya ada gemawan hitam dan hujan deras yang mengguntur-guntur.“ Kukenang-kenang ucapanmu  seraya memandangi jingga yang melingkup pada sebungkus senja yang kauberikan dulu. Sebungkus senjamu adalah wajahmu. Di sana aku menjamu matamu; tatapmu, menyusuri bibirmu; senyummu, kutangkup semuanya dalam kilau jingga pemberianmu.

 Zadig, saat ini, hujan deras mengguyur jakarta. Petir melenting-lenting. Angin membanting-banting. Aku sendirian. Kesepian. Dan dingin menyusup ke dalam kamarku.  Sembunyi-sembunyi.  Rinduku per lahan mengelupas pada bulir-bulir hujan yang mengalir di kaca-kaca jendela kamar. Beruntung kau memberikanku sebungkus senja, karena sejak kepergianmu hujan memang terus turun. Kadang deras, kadang cuma gerimis yang menitis.

Zadig, namamu dan sebungkus senja ini telah menghangatkanku dan seisi ruangan kamarku. Kutasbih namamu dan menzikir-zikir rupamu, dalam susah dalam gelisah di depan sebungkus senjamu. Aku tidak perduli dengan anggapan keluarga dan teman-temanku kalau aku sudah gila. Kata mereka, “Sebungkus plastik kosong kok disebut sebungkus senja.”  

“Lena, kamu gila yah, siapa tahu si zadig ngibul atau barangkali menghipnotis kamu. Kamu kan tahu sendiri, laki-laki tuh punya seribu alasan buat selingkuh.  Menurutku, zadig ninggalin kamu karena kecantol wanita lain, terus dia buat skenario untuk meyakinkanmu biar dia bisa balik lagi ke kamu,” ujar Malela, sahabat dekatku, sewot.  Kukatakan pada mereka tentang pesanmu, ”Sebungkus senja ini hanya bisa dilihat oleh kita berdua, jangan takut bila orang mengatakan yang tidak-tidak tentang sebungkus senja ini.” Mereka malah mencibirku. Kucoba jelaskan kronologis peristiwa di pura Ulu Watu itu kepadanya, tapi ia malah mengatakan,  “Itu semua akal-akalan zadig!”

(more…)

« Previous PageNext Page »