Riwayat Kelu Lelaki Pilihan
“Rabbisyrah lii shadrii, wa yassir lii amrii, wahlul ’uqdatam mil lisaanii, yafqahuu qaulii” [Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku. Dan mudahkanlah urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan lidahku supaya mereka mengerti perkataanku.] (QS. Thaha (20) : 25-30)
Pada suatu waktu ia kelu. Pada suatu momen ia membisu. Sebongkah suntuk bertahta di batinnya. Semuanya soal handicap fisik yang menjelaga di hatinya sejak balita. Pada saya, Ahmad, kawan karib saya yang sebentar lagi akan menikah itu, kerapkali menzikir-zikir ketidaksempurnaan yang melekat di lidahnya: “A…a….aa…ne ka…ka..dang frus…rus..tasi mi…mi…kiriiiiin kon…kon..disi ga….ga…..gap a….aa….a..ne i.. i….ni!”
Selayak gerowong hitam, risau dan rasa gelap itu menjalar di tiap kata yang diucapkanya. Ia memang tidak menitikkan air mata. Tapi, air mukanya begitu jelas melukiskan pilu dan jiwa yang getas. (more…)