Doa-Doa Pelipur Jiwa


“Allahumma rabbii nabiyyi muhammadin, ighfirly dzanby, wa azhib ghaizha qalby, wa ajirny min mudhilatil fitan…”

[Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kemarahan dari dalam hatiku, dan selamatkanlah aku dari segala (bahaya) kesesatan segala bentuk fitnah [puncak amarah].

             Seorang pria paruh baya dan segenggam riwayat kelam dendamnya. Katakanlah namanya H. Misbah, pengusaha sukses yang saya kenal pribadinya lantaran persentuhan saya dengan  dunia perbukuan. Kepada saya, H. Misbah berkisah dengan mata nanar dan bibir bergetar-getar.             “Sa..ya tak habis pikir. Ia menikam saya dari belakang! Istri saya sendiri, wanita yang sudah melahirkan dua anak. Ia bercinta dengan lelaki lain di saat saya sedang bertugas ke luar daerah! Bukankah ia tahu saya mencari nafkah untuknya, untuk anak-anaknya? Wanita jalang itu kabur dengan pria muda! Sejak itu, saya tak mau melihat wajahnya. Berat hati saya memaafkanya…”              Dan siapakah yang darahnya tak mendidih, mengetahui pasangan jiwanya berkhianat? Siapakah yang hatinya tak merintih-rintih, mendapati teman hidupnya menikam cintanya dari belakang? Begitulah H. Misbah dan mungkin juga Anda. Ia yang saya kenal berkali-kali pergi haji itu, tiba-tiba, menjadi pribadi keras dan getas setiap mengenang tajuk perselingkuhan itu.                Belakangan, saya tersadar,  H. Misbah ternyata menyebar luka  itu, dendam itu, ke setiap orang yang dekat dengannya. Kepada saya sendiri, ia sudah entah kesekian kali mengisahkannya. Saya tahu H. Misbah tidak sendiri, dan ia pun bukan orang pertama yang meriwayatkan dendamnya ke dalam memori saya.              Saya tercenung; Ilahi, dari bahan apakah kau ciptakan ‘dendam’ itu? Apakah rasa getir yang kerap mengoyak jiwa manusia ini bagian dari skenario-Mu? (more…)

 “Ya Hayyu…Ya Qayyum…”

[Wahai Sang Maha Hidup Kekal…Wahai Sang Maha yang Senantiasa Mengurus Mahluk-Nya…] 

Ia merintih. Ia memendam perih. Sebuah luka hampir saja meringkus jiwanya, melahap mimpi-mimpinya. Saat itu, musim panas di tahun 1953, seorang laki-laki saleh nyaris luruh di dunia kuldesak, dunia ketika jalan terasa gelap dan buntu. Matanya begitu pedih.  Sebuah penyakit –yang entah apa–mengendap di kelopaknya. Tiga bulan sudah penyakit itu bersetia mukim di satu biji matanya.  Bila rasa sakit itu meradang, ia menjerit-jerit. Serupa jeruk nipis bercampur garam dan cuka masam meresap ke dalam matanya.  Ia merintih-rintih seraya melafal-lafal asma Allah, meminta belas kasih-Nya. (more…)

Selarik Doa Tentang Derita

“(Rabbi) Anni massaniyad durru wa anta arhamu rahimin”

 [(Wahai Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.]”  [QS. al-Anbiyaa (21): 83]

 Seorang sahabat datang dengan setangkup derita. Padahal, saya ingat, saat itu dua pekan pasca lebaran. Semestinya, sisa-sisa kemenangan masih menyelimuti dirinya. Namun, air mukanya yang keruh, dan matanya yang merah dan sayu mengabarkan setumpuk nelangsa tengah bergemuruh di benaknya. Dugaan saya tak meleset. Dodi, demikian sahabat saya itu acapkali dipanggil,  berkisah: (more…)

Next Page »