“Allahumma rabbii nabiyyi muhammadin, ighfirly dzanby, wa azhib ghaizha qalby, wa ajirny min mudhilatil fitan…”
[Ya Allah, Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kemarahan dari dalam hatiku, dan selamatkanlah aku dari segala (bahaya) kesesatan segala bentuk fitnah [puncak amarah].
Seorang pria paruh baya dan segenggam riwayat kelam dendamnya. Katakanlah namanya H. Misbah, pengusaha sukses yang saya kenal pribadinya lantaran persentuhan saya dengan dunia perbukuan. Kepada saya, H. Misbah berkisah dengan mata nanar dan bibir bergetar-getar. “Sa..ya tak habis pikir. Ia menikam saya dari belakang! Istri saya sendiri, wanita yang sudah melahirkan dua anak. Ia bercinta dengan lelaki lain di saat saya sedang bertugas ke luar daerah! Bukankah ia tahu saya mencari nafkah untuknya, untuk anak-anaknya? Wanita jalang itu kabur dengan pria muda! Sejak itu, saya tak mau melihat wajahnya. Berat hati saya memaafkanya…” Dan siapakah yang darahnya tak mendidih, mengetahui pasangan jiwanya berkhianat? Siapakah yang hatinya tak merintih-rintih, mendapati teman hidupnya menikam cintanya dari belakang? Begitulah H. Misbah dan mungkin juga Anda. Ia yang saya kenal berkali-kali pergi haji itu, tiba-tiba, menjadi pribadi keras dan getas setiap mengenang tajuk perselingkuhan itu. Belakangan, saya tersadar, H. Misbah ternyata menyebar luka itu, dendam itu, ke setiap orang yang dekat dengannya. Kepada saya sendiri, ia sudah entah kesekian kali mengisahkannya. Saya tahu H. Misbah tidak sendiri, dan ia pun bukan orang pertama yang meriwayatkan dendamnya ke dalam memori saya. Saya tercenung; Ilahi, dari bahan apakah kau ciptakan ‘dendam’ itu? Apakah rasa getir yang kerap mengoyak jiwa manusia ini bagian dari skenario-Mu? (more…)