14 April 2003, Kamar  Malena.

Zadig, namamu membuatku abadi bersama sebungkus senja[i] yang kau berikan di pantai Ulu Watu, di suatu sore itu.

“Kuserahkan sebungkus senja ini sebagai hadiah valentinmu karena besok hanya ada gemawan hitam dan hujan deras yang mengguntur-guntur.“ Kukenang-kenang ucapanmu  seraya memandangi jingga yang melingkup pada sebungkus senja yang kauberikan dulu. Sebungkus senjamu adalah wajahmu. Di sana aku menjamu matamu; tatapmu, menyusuri bibirmu; senyummu, kutangkup semuanya dalam kilau jingga pemberianmu.

 Zadig, saat ini, hujan deras mengguyur jakarta. Petir melenting-lenting. Angin membanting-banting. Aku sendirian. Kesepian. Dan dingin menyusup ke dalam kamarku.  Sembunyi-sembunyi.  Rinduku per lahan mengelupas pada bulir-bulir hujan yang mengalir di kaca-kaca jendela kamar. Beruntung kau memberikanku sebungkus senja, karena sejak kepergianmu hujan memang terus turun. Kadang deras, kadang cuma gerimis yang menitis.

Zadig, namamu dan sebungkus senja ini telah menghangatkanku dan seisi ruangan kamarku. Kutasbih namamu dan menzikir-zikir rupamu, dalam susah dalam gelisah di depan sebungkus senjamu. Aku tidak perduli dengan anggapan keluarga dan teman-temanku kalau aku sudah gila. Kata mereka, “Sebungkus plastik kosong kok disebut sebungkus senja.”  

“Lena, kamu gila yah, siapa tahu si zadig ngibul atau barangkali menghipnotis kamu. Kamu kan tahu sendiri, laki-laki tuh punya seribu alasan buat selingkuh.  Menurutku, zadig ninggalin kamu karena kecantol wanita lain, terus dia buat skenario untuk meyakinkanmu biar dia bisa balik lagi ke kamu,” ujar Malela, sahabat dekatku, sewot.  Kukatakan pada mereka tentang pesanmu, ”Sebungkus senja ini hanya bisa dilihat oleh kita berdua, jangan takut bila orang mengatakan yang tidak-tidak tentang sebungkus senja ini.” Mereka malah mencibirku. Kucoba jelaskan kronologis peristiwa di pura Ulu Watu itu kepadanya, tapi ia malah mengatakan,  “Itu semua akal-akalan zadig!”

(more…)