
Dulu, sewaktu belajar filsafat di masa mahasiswa, ada satu istilah dari Martin Heidegger, filsuf kenamaan Jerman, yang menjejak di benak saya. Sang filsuf dalam karya masyhurnya, Sein und Zeit, itu pernah mengkritik waktu –yang disebutnya– Innerzeitigkeit.* [Anda tak perlu bersusah payah melafalkanya, karena lidah saya sendiri juga sering keseleo untuk melisankanya. Karena menghargai usaha intelektualitas si filsuf-lah, saya merasa wajib untuk menyebutkannya.]
Kira-kira, beginilah maksudnya. Innerzeitigkeit itu waktu yang kita lalui dalam hitungan matematis menurut kalender, jam, menit, hari, dan seterusnya. Ia merupakan durasi yang acapkali kita anggap sebagai masa lalu, sekarang, dan masa depan. Ia menjadi tolak ukur semua aktivitas kehidupan umat manusia dunia. Inilah waktu obyektif; waktu yang direncanakan, dipola dan dipahami secara bersama dalam kesibukan sehari-hari. Kita terbiasa mengontrol dan dikontrol oleh waktu obyektif ini.
Ia biasa mendikte kehidupan manusia untuk melakukan aktivitas sesuai jadwal yang sudah direncanakanya. Nah, berada dalam pusaran waktu obyektif inilah, menurut hemat penulis, manusia seringkali gagal untuk bersyukur. Ia bersalin rupa menjadi manusia kufur; entah ia pribadi dengan sejumlah cemas dan gelisah dalam menapaki masa depannya, atau pun pribadi dengan sehimpun luka dan trauma dari masa lalunya.
Dan kalaupun berada pada masa kini, manusia kufur adalah sosok dengan pikiran dan hati yang bertukartangkap diantara dua kutub itu; masa depan dan masa lalu yang sama-sama tak nyaman dan aman.
Padahal, syukur itu, kalau saya boleh rumuskan, berada dalam waktu subyektif. Inilah waktu yang membuat kita menikmati dan mengalami satu kegiatan tanpa memikirkan perkara yang lain selain satu kegiatan itu sendiri. Manusia yang bersyukur terbuai dengan menikmati kegiatan saat ini dan kini, tanpa memikirkan tetek bengek di masa lalu dan masa depan.
Bukankah tersuruk dalam kekufuran lantaran kita seringkali melakukan aktivitas hari ini–entah itu pekerjaan atau kegiatan rutin harian—seraya menyesali hal ihwal masa lalu yang tak bisa kita rengkuh? Tidakkah kekufuran itu terjadi akibat kita acapkali melakukan kegiatan saat ini seraya tertekan oleh sejumlah harapan yang tak pasti di masa depan?
Makan, misalnya. Kita kerapkali menyantap makanan dengan konsentrasi pikiran yang tidak berpusat pada sensasi menikmati makanan. Mulut mengunyah, sementara otak atau hati kita melayang entah kemana. Pun, satu contoh lagi, bila menjalani profesi sehari-hari. Berapa banyak diantara kita yang hati dan tindakanya tidak selaras dalam menggeluti tugas sehari-harinya. Ia bekerja, tapi segenap pikirannya menyesali; kenapa ia akhirnya memilih pekerjaan ini.
Untuk itulah, saya melihat bahwa butuh waktu subyektif: waktu dengan kesadaran penuh untuk belajar bersyukur. Waktu yang mengarahkan hati dan batin untuk menikmati saat kini dan hari ini. Dari sinilah saya paham kenapa filsuf Augustinus menganggap bahwa keabadian itu ada di waktu kini, bukan di waktu lalu atau waktu akan datang.
Kesadaran waktu subyektif ini, sejatinya, adalah modal dasar belajar mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Hal-hal kecil, perkara yang kita anggap remeh-temeh, niscaya akan terasa indah dan bermakna bila proses mengalami dan menikmati kegiatan itu menggunakan waktu subyektif, yakni saat ketika waktu hati bekerja dengan penuh seluruh di momen kini dan di sini.
Pernahkah Anda menghirup udara pagi selepas Subuh tanpa memikirkan rencana siang hari dengan tugas-tugas kantor yang menumpuk? Pernahkah Anda sarapan pagi tanpa harus memikirkan rute macet yang sebentar lagi akan Anda lalui? Pernahkah Anda berangkat tidur di malam hari tanpa beban pikiran yang masih menggantung di siang hari?
Dan tahukah Anda? Bermula dari hal-hal kecil di ataslah, jurus jitu belajar syukur yang paling ampuh yang dianjurkan junjungan kita, Nabi Muhammad saw. “Siapa yang tidak mensyukuri [nikmat] yang kecil, niscaya ia tidak mensyukuri [nikmat] yang besar….” Begitu sabdanya.
Bukan tak mungkin bila Anda mulai mensyukuri anugerah yang kecil, maka sederet anugerah terbesar tak terduga akan muncul tiba-tiba. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah [nikmat] kepadamu…” Demikian janji-Nya sebagaimana termaktub dalam QS. Ibrahim [14]: 7.
Maka berbahagialah bila Anda sudah belajar mensyukuri anugerah Allah yang kecil-kecil dengan segenap waktu subyektif dan hati yang lapang. Karena bila tidak, bersiaplah memasuki lorong gelap kehidupan tanpa nikmat secuil pun, sebagaimana petuah sufi Ibn ‘Atha’ilah: “Siapa yang tidak menyukuri nikmat, berarti menginginkan kehilangannya.”