enjoy your life!

Dulu, sewaktu belajar filsafat di masa mahasiswa, ada satu istilah dari Martin Heidegger, filsuf  kenamaan Jerman, yang menjejak di benak saya. Sang filsuf  dalam karya masyhurnya, Sein und Zeit,  itu pernah mengkritik waktu –yang disebutnya– Innerzeitigkeit.* [Anda tak perlu bersusah payah melafalkanya, karena lidah saya sendiri juga sering keseleo untuk melisankanya. Karena menghargai usaha intelektualitas si filsuf-lah, saya merasa wajib untuk menyebutkannya.]

 Kira-kira, beginilah maksudnya. Innerzeitigkeit itu waktu yang kita lalui dalam hitungan matematis menurut kalender, jam, menit, hari, dan seterusnya. Ia merupakan durasi yang acapkali kita anggap sebagai masa lalu, sekarang, dan masa depan. Ia  menjadi tolak ukur semua aktivitas kehidupan umat manusia dunia. Inilah waktu obyektif; waktu yang direncanakan, dipola dan dipahami secara bersama dalam kesibukan sehari-hari. Kita terbiasa mengontrol dan dikontrol oleh waktu obyektif ini.

Ia biasa mendikte kehidupan manusia untuk melakukan aktivitas sesuai jadwal yang sudah direncanakanya. Nah, berada dalam pusaran waktu obyektif inilah, menurut hemat penulis, manusia seringkali gagal untuk bersyukur. Ia bersalin rupa menjadi manusia kufur; entah ia pribadi dengan sejumlah cemas dan gelisah dalam menapaki masa depannya, atau pun pribadi dengan sehimpun luka dan trauma dari masa lalunya.

Dan kalaupun berada pada masa kini, manusia kufur adalah sosok dengan pikiran dan hati yang bertukartangkap diantara dua kutub itu; masa depan dan masa lalu yang sama-sama tak nyaman dan aman. (more…)