“Ya Hayyu…Ya Qayyum…”
[Wahai Sang Maha Hidup Kekal…Wahai Sang Maha yang Senantiasa Mengurus Mahluk-Nya…]
Ia merintih. Ia memendam perih. Sebuah luka hampir saja meringkus jiwanya, melahap mimpi-mimpinya. Saat itu, musim panas di tahun 1953, seorang laki-laki saleh nyaris luruh di dunia kuldesak, dunia ketika jalan terasa gelap dan buntu. Matanya begitu pedih. Sebuah penyakit –yang entah apa–mengendap di kelopaknya. Tiga bulan sudah penyakit itu bersetia mukim di satu biji matanya. Bila rasa sakit itu meradang, ia menjerit-jerit. Serupa jeruk nipis bercampur garam dan cuka masam meresap ke dalam matanya. Ia merintih-rintih seraya melafal-lafal asma Allah, meminta belas kasih-Nya. (more…)
Selarik Doa Tentang Derita
“(Rabbi) Anni massaniyad durru wa anta arhamu rahimin”
[(Wahai Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.]” [QS. al-Anbiyaa (21): 83]
Seorang sahabat datang dengan setangkup derita. Padahal, saya ingat, saat itu dua pekan pasca lebaran. Semestinya, sisa-sisa kemenangan masih menyelimuti dirinya. Namun, air mukanya yang keruh, dan matanya yang merah dan sayu mengabarkan setumpuk nelangsa tengah bergemuruh di benaknya. Dugaan saya tak meleset. Dodi, demikian sahabat saya itu acapkali dipanggil, berkisah: (more…)
Lumut
Sejak kau tanyakan diriku, aku menanam rindu sejumput-sejumput. (:Aku adalah lumut yang tumbuh di dalam kolam yang kelam. Di dasarnya, aku menghisap maut bersama lelembut. Kami berlomba-lomba tentang siapakah yang paling lembut?) Sejak kau tahu diriku, aku mencabut rindu segobang-segobang.
Kembangan, 28 Desember 2002