Ketika seorang mengaku Nabi—entah ia muslim, kristiani atau pemeluk agama lainnya—berdasarkan ‘wahyu’ yang diterimanya melalui pengalaman asyik-masyuk meditasi, zikir, tahanuts, bertapa atau lainnya, maka itu sejatinya wilayah agama yang sangat personal dan subyektif. Ia tengah menjalin keintiman pribadi dengan sesuatu yang ‘ia anggap Ilahi’.  (more…)