“Ya Hayyu…Ya Qayyum…”

[Wahai Sang Maha Hidup Kekal…Wahai Sang Maha yang Senantiasa Mengurus Mahluk-Nya…] 

Ia merintih. Ia memendam perih. Sebuah luka hampir saja meringkus jiwanya, melahap mimpi-mimpinya. Saat itu, musim panas di tahun 1953, seorang laki-laki saleh nyaris luruh di dunia kuldesak, dunia ketika jalan terasa gelap dan buntu. Matanya begitu pedih.  Sebuah penyakit –yang entah apa–mengendap di kelopaknya. Tiga bulan sudah penyakit itu bersetia mukim di satu biji matanya.  Bila rasa sakit itu meradang, ia menjerit-jerit. Serupa jeruk nipis bercampur garam dan cuka masam meresap ke dalam matanya.  Ia merintih-rintih seraya melafal-lafal asma Allah, meminta belas kasih-Nya. Sudah sekian dokter ia datangi, telah sekian pula berita nihil didapatnya. Para dokter itu tak mampu mendiagnosa penyakitnya. Ia merasa hidupnya dan mimpinya dan jiwanya, lamat-lamat, akan tenggelam di pusara sakit mata. Ia pun akhirnya hanya bisa berdoa dan memunajatkan hati kepada-Nya. Hingga pada satu momen, ia mulai bangkit kembali. Ia pergi ke sebuah rumah sakit dan didiagnosis oleh seorang asisten dokter bernama dokter Muhriz. Ternyata, jalan menumpas perih yang menjelaga di matanya belum juga berakhir.  Seminggu selepas diidentifikasi sang dokter, ia hanya diberi resep guna meringankan rasa sakit yang dideranya. Ia pun terpaksa melewati hari dalam jeri, dalam cemas yang kelam. Kala itu, yang bisa dilakukannya hanya berdoa dan menzikir-zikir nama Allah.Dua bulan setelah itu, dokter Thuwaihi, dokter berpangkat profesor di sebuah fakultas kedokteran, bersama segenap mahasiswanya menjumpainya. Ia bermaksud mendeteksi penyakitnya sekaligus mengajarkan kepada mahasiswanya itu ihwal metode penyembuhan penyakit yang  sudah lama mengendap di matanya.            Saat itulah, sang profesor menuturkan petuah sakti yang memasygulkan batinnya. “Daya lihat mata yang menderita penyakit seperti ini telah hilang secara total. Karena itu, kehadiran kita di sini sekadar membatasi pengaruhnya agar penyakit ini tidak menyebar ke mata yang satunya lagi, mata yang masih bisa melihat…”             Kesimpulan sang Profesor kepada mahasiswanya itu, kontan saja, mengiris-iris kalbu lelaki saleh ini. Ia seperti dilesakkan ke palung bumi yang paling gulita. Ia merasa benar-benar sendiri dan  sepi. Air mata berderai-derai di pelupuknya. Betapa tidak! Seorang yang dipikirnya mampu mengusir ‘setan’ di matanya, malah melukai jiwanya. Saat itu, gejolak batinnya tidak lagi berwarna kelabu, tapi hitam pekat dan kelam. Maka Allah-lah menjadi sahabat sejatinya, menjadi tempat dia menumpahkan perih dan pedih.             Beberapa hari kemudian, si Profesor dan gerombolan mahasiswanya kembali mengunjunginya. Kali ini, Profesor itu meletakkan sebuah mikroskop di atas matanya, memantau kembali kelopaknya. Dan, tiba-tiba,  Profesor itu terperanjat. Ia geleng-geleng kepala. Ia terkagum-kagum. “Demi Allah! Ini adalah mukjizat. Apa yang Anda perbuat hingga hal ini bisa terjadi? Mata Anda yang kemarin rusak, kenapa sekarang bisa pulih?” tanya Profesor penasaran.            “Saya tidak melakukan apapun. Saya hanya terpengaruh ucapan Anda keamrin, sehingga saya menangis cukup lama. Namun demikian, harapan saya kepada Allah tidak pernah hilang, sebab kesembuhan semata-mata berasal dari-Nya,” jawab lelaki saleh itu penuh haru. “Tampaknya, doa tulus Anda telah dikabulkan Allah…”  Ujar Profesor penuh decak takjub.            Begitulah, penuturan lelaki saleh bernama Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal dalam bukunya yang bertajuk Al-istisyfaa’ bid Du’a (Meraih Kesembuhan dengan Doa –versi terjemahannya). Saya sengaja menuturkan kisahnya lantaran doa yang senantiasa dibacanya bukanlah doa yang panjang dan sulit kenang-kenang. Doa itu cuma dua nama Ilahi, Ya Hayyu dan Ya Qayyuum;  dua nama yang berfaedah selaik dua ‘mantra’ ajaib yang dapat melumpuhkan perih dan pedih.             Dan Ibrahim sendiri, hingga kini, tak menduga bila dua nama yang dianjurkan syekhnya itu bakal sedahsyat melampaui dokter dan profesor hebat yang dilaluinya. Tak aneh, dalam ujaran Nabi Muahammad saw., dua nama Ilahi itu dijuluki Ismullah al-A’zham (Nama Allah yang Paling Agung). Begini bunyinya: Rasulullah saw. bersabda, “Ismullah al-A’zham yang jika digunakan untuk berdoa, maka Allah swt. akan mengabulkan doanya, (yakni) yang terdapat dalam tiga surat al-Qur’an: surat al-Baqarah, surat ‘Ali Imran, dan surat Thaahaa.” (HR. Ibnu Majah, Hakim dan Thabrani)            Setelah saya telusuri, tiga surat itu ada dalam ayat: al-Baqarah, ayat 255; ‘Ali  Imraan, ayat 2; Thaahaa, ayat 111. Khusus untuk ayat 255 surat al-Baqarah, dua nama Ilahi yang agung itu melekat dalam rangkaian bernama ayat Kursi, satu ayat yang saya yakin Anda begitu fasih telah menghapalnya dan –barangkali juga—Anda tahu senarai ‘hikmah’-nya. Dan kita luput. Padahal, bila ayat Kursi itu terasa panjang untuk dizikir-zikir bibir, kita cukup menyebut-nyebut Ismullah al-A’zham itu sebagai doa.             Nah, ketika saya buka Tafsir Misbah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab seperti meneguhkan energi magis dua nama Allah yang agung itu.Bahwa tatkala membaca ayat Kursi, seseorang akan menyerahkan jiwa dan raganya kepada Allah. Kepada-Nya, ia akan menghiba-hiba perlindungan. Dan saat itu,  bisa jadi bisikan iblis melintas di dalam benaknya dan berkata: “Yang dimohonkan pertolongan dan perlindungan itu memang dulu pernah ada, tetapi kini telah mati.” Maka, penggalan ayat berikutlah yang meyakinkan ihwal kekeliruan bisikan mahluk terkutuk itu, yakni ayat dengan bunyi ‘al-Hayyu’ (Yang Maha Hidup dengan kehidupan yang kekal). Namun, imbuh Quraish, si iblis belum tentu menyerah begitu saja, ia bisa datang lagi guna menerbitkan waham dan prasangka seraya berkata, “Memang Dia hidup kekal, tetapi Dia pusing dengan urusan manusia, apalagi si pemohon”. Pada titik krusial itulah, sepenggal ayat berbunyi ‘Qayyum’ (Sang Maha yang senantiasa menjaga mahluk-Nya) menampik bisikan dusta iblis itu.              Dari sini, saya mafhum kenapa Rasulullah saw., akhirnya, memuji Abu Mundzir.  Beliau bertanya, “Hai Abu Mundzir, tahukah kau ayat al-Qur’an yang menurutmu paling agung?” Abu Mundzir menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah saw. bertanya lagi, “Hai Abu Mundzir, tahukah kamu ayat al-Qur’an yang menurutmu paling agung?” Abu Mundzir menjawab, “Yaitu ayat, “Dia-lah Allah, Tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Bediri Sendiri (al-Hayyu, al-Qayyum).” Abu Mundzir lalu berkata, “Kemudian Rasulullah saw. menepuk dada saya seraya berkata, “Demi Allah, sungguh dalam ilmumu, wahai Abu Mundzir!” [HR. Bukhari dan Muslim]             Karena itulah, mencermati makna dua nama Agung tersebut, saya semakin yakin kenapa Ibrahim membacanya. Ia tahu bahwa perih yang mengendap di kelopaknya bakal meringkus nafasnya. Maka, ia teringat nasehat gurunya untuk membaca Ismullah al’A’zham itu. Pada dua nama inilah, cadangan asa yang dimilikinya menggeliat dahsyat: ya Hayyu dan ya Qayyum benar-benar serupa oase yang mempertahankan spirit hidupnya.  Barangkali, saat itu, Ibrahim sedang menghikmati apa yang dituturkan sufi Syekh Kabir bahwa, “Nafas  yang tidak menyebut-nyebut nama Allah adalah nafas yang sia-sia.” Dalam pada itu, saya mencatat spirit penting ihwal sakit Ibrahim dan doa bernama Ismullah al-A’zham ini. Suatu kali, filsuf  masyhur bernama Socrates pernah berpesan:  “Hidup yang tidak teruji adalah hidup yang tidak layak untuk dihidupi, hanya ada satu tempat di dunia ini di mana manusia terbebas dari segala ujian hidup, yakni kuburan. Tanda manusia masih hidup adalah ketika ia mengalami ujian, kegagalan, dan penderitaan”. Dan Ibrahim, juga kisah orang-orang saleh berabad-abad silam yang pernah memendam perih, saya kira sudah begitu lama menyerap petuah sang filsuf tersebut.  Baginya, semangat hidup harus terus menyala meski dalam kondisi apapun. Ia tidak menjamah putus asa walau kondisi genting tengah menghimpitnya. Bahkan, ketika sebuah vonis sang profesor merajam kalbunya, ia masih bisa mengumpulkan energi harapan dengan doa Ismullah al-A’zham. Ternyata, Ya Hayyu.. Ya Qayyum itu benar-benar memberi kehidupan baru, benar-benar tak luput untuk menjaganya dari segenap perih. Peristiwa Ibrahim semakin meyakinkan  saya bahwa harapanlah, seberapapun bentuknya, yang membuat rasa sakit yang kita alami semakin melumpuhkan atau menyembuhkan. Dan harapan kecil yang meliputi jiwa Ibrahim itu bersenyawa dalam doa yang acapkali membasahi bibir dan hatinya. Tak aneh bila beberapa penelitian ilmuwan Barat mengungkap bahwa ada korelasi antara spritualitas (baca: doa) dan kesehatan fisik seseorang. David Larson, seperti dikutip Kang Jalal, misalnya, mengeluarkan statistik luar biasa untuk meyakinkan orang tentang pentingnya mempertimbangkan dimensi keagamaan: “Sebanyak 80% orang Amerika percaya bahwa Tuhan dan atau berdoa dapat membantu mereka  untuk sembuh dari penyakitnya…Sementara orang yang tidak berdoa besar kemungkinannnya untuk bunuh diri…”             Wajar bila ST. Agustinus, filsuf  yang pernah berkubang dalam dunia jadah itu, dalam karya bertajuk Confession, menyadari bahwa semakin kita dekat dengan Tuhan, maka kesengsaraan dan penderitaan dapat dilenyapkan.  “Karena ke mana pun jiwa manusia berpaling, kecuali jika berpaling kepada-Mu, ia akan terpancang kesedihan,” tegas Agustinus ketika bersimpuh di hadirat Tuhannya.Di luar itu semua, jauh-jauh hari, Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa seorang muslim yang sakit dan menderita sebetulnya tengah menikmati betapa welas asih dan kasihnya Allah azza wa jalla. Dia yang Hayyu dan Qayyum, kata Nabi, tengah membersihkan jiwa hamba-Nya yang pekat oleh dosa.  Lebih lengkap, begini bunyi pesan Rasulullah saw. itu: Suatu kali Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku berkunjung ke rumah Rasulullah saw. ketika beliau tengah dilanda sakit parah. Kuusapkan tanganku pada tubuhnya seraya bertanya, “Ya Rasulullah, Anda menderita sakit parah? Rasulullah menjawab, “Ya, aku menderita sakit berat seperti sakitnya dua orang di antara kalian.” Aku bertanya kembali: “Apakah itu karena Anda mendapat dua kali lipat pahala?” Rasulullah saw. pun menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa sakit melainkan dengan itu Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dapatkah Anda membayangkan betapa sang Nabi Pamungkas nan mulia –yang dijanjikan Allah bebas dosa itu– masih menyadari segugus dosa-dosanya? Ia yang ma’sum itu masih bermunajat pada Ilahi agar perih yang sedang menjalar di tubuhnya adalah pengugur dosanya.  Dan kita? Semoga kita segera menyimpan rapat-rapat petuah itu di lubuk benak kita, agar kelak bila ada perih yang meluruh di tubuh kita, bukan hanya Ismullah al-A’zham yang membasahi hati kita, tapi juga nasihatnya yang indah.  Wallahu’alam bilshawab  

Sumber Referensi:1.      M. Quraish Shihab, Tafsir Misbah, Vol. 1; Lentera Hati, 2000.2.      Ibrahim Muhammad Hasan Al-Jamal, Meraih Kesembuhan dengan Doa;  Irsyad Baitus Salam, 2004.3.      Imam Zakiyuddin Al-Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim; Pustaka Amani, 1994. 4.      Ben Salim, Buku Kecil Instruksi Sufi; Pustaka Alvabet, 2006.5.      Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Agama: Sebuah Pengantar; Mizan, 2003.  6.      Tom Butler-Bowdon, 50 Spiritual Classic;  Buana Ilmu Populer, 2005)