Satu Doa Ketika Gelisah Meruyak
Hasbunallah wani’mal wakil[Cukuplah Allah sebagai penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandarQS. Ali ‘Imran (3): 173
April kelabu di musim tak tentu. Bukankah panas yang terik dan hujan yang deras seringkali bertukar kulit dalam sehari di beberapa bulan terakhir ini? Pun kabar mala dan petaka di hidup keseharian kita. Semua kian akrab di telinga. Tapi April, bulan ketika saya menuliskan kolom ini, segala ketidakmentuan itu kian berkelindan bagi beberapa persona yang dilanda musibah, yang dirundung gelisah. Dan sejumlah sahabat saya diantaranya: Sahabat pertama; Aziz, begitu kerap saya memanggilnya, nampak begitu layu di pertengahan April. Air mukanya keruh. Matanya mengabarkan hampa. Ia tidak lagi tampil ekspresif seperti dulu. Ia tiba-tiba menjadi sosok yang rapuh. Kepada saya, Aziz menuturkan pangkal soal kegundahanya itu: “Inilah minggu terberat dalam hidupku. Aku shock, Az! Tanpa pemberitahuan sedikitpun, aku dan beberapa teman di-PHK secara tiba-tiba. Aku stres, Az. Stres... Semua bagai petir di siang bolong....” Saat itu, suaranya seperti menghimpun amarah, resah, dan lelah dalam satu wadah, yang kemudian dihempaskan ke saya. Maka saya pun bersetia hati menjadi ‘tong sampah’-nya. Sejak itulah, saya tahu, ia menimang-nimang kegelisahan dari hari ke hari. Sahabat kedua; Dinda, namanya. Cantik, salehah, dan seorang mahasiswi S2 sebuah perguruan tinggi negeri yang tengah menanam rasa serupa; gelisah dan cemas yang tak berbeda. Di ujung telepon, saya mendengar isak tangisnya yang pilu seraya berkata: “A...a...ku tak sanggup lagi, Az. Ha..tiku tak sanggup menampung penyesalan ini. Pa..dahal, pernikahan itu tinggal selangkah lagi, Az. Tapi, ia me..mutuskan komitmen karena hal se..pele......” Kala itu, getaran sesak yang merasuki dadanya juga menghujam batin saya. Setiap kata yang meluncur di bibirnya seperti kidung nestapa yang sendu. Selanjutnya, saya pun menerima pesan-pesan pendek (sms) kekecewaan dan kegelisahannya yang belum juga musnah. Saya yakin, Anda mafhum, kenapa Aziz dan Dinda akhirnya larut dalam kecamuk gelisah itu. Sebab setiap kita, mungkin, pernah mencecapnya di suatu masa. Terlebih bila gelisah itu sudah berkecambah di segala ranah. Ia, diam-diam, merasuki setiap lini kehidupan kita. Semuanya terasa buram dan muram. Kondisi inilah yang saya khawatirkan juga meruyak di ceruk-ceruk jiwa Aziz dan Dinda dan saudara-saudara seiman lainnya. Saya jadi teringat lirik lagu bertajuk Kembali Pada Allah yang didendangkan Opick: Bila hati gelisah/Tak tenang, tak tentram/Bila hatimu goyah/ Terluka, merana/Jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah?/ Hilangkah dalam hati zikirku, imanku?/ Hanya dengan Allah, hatimu akan menjadi tenang/Dengan mengingat Allah/Hilanglah semua kegelisahan/ Cukuplah hanya Allah/Hati bergantung, berserah diri/Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wani’ma nashir... Hmm. Saya tercekat di lengkingan merdu Opick tatkala ia melafalkan hasbunallah wa ni’mal wakil. Bukankah sebaris kalimat ini pernah dizikir-zikir Nabi Ibrahim ketika maut tengah mengintainya? Karena itu, sidang pembaca, izinkan saya mengutip penggalan kisahnya di kolom ini. [Bila Anda sudah sangat tahu, bahkan hapal sekali dengan jalan ceritanya, Anda bisa mengalihkan mata ke paragraf berikutnya]: Syahdan, di negeri Babilonia hidup seorang raja yang sangat zalim. Namrud bin Kan’an bin Kusy, namanya. Seturut catatan sejarah, Namrud dan segenap rakyatnya adalah para penyembah patung. Konon, dalam lingkungan sosial seperti inilah Nabi Ibrahim as. lahir dan tumbuh dewasa. Tak aneh bila ayahanda Ibrahim sendiri pun seorang penyembah berhala sejati. Kendati demikian, Ibrahim sendiri bukanlah sosok yang mudah manut dengan keadaan yang menyesatkan. Ia bukan tipikal anak yang takluk pada kehendak semena-mena orang tua. Di matanya, kebiasaan ayahnya dan rakyat Babilonia menjadikan benda mati sebagai tuhan itu jelas-jelas sebuah kedunguan. Sesuatu yang tidak logis. Irasional, tak masuk akal. Maka ia pun mbalelo, memberontak. Ia bertekad menghancurkan patung-patung sesembahan rakyat Babilonia tersebut. Dengan sebilah kapak tajam yang terhunus di tangannya, ia merangsek masuk ke tempat dimana berhala-berhala itu dipancangkan. Sejurus kemudian, kapak Ibrahim telah berayun-ayun, melesat-lesat, menghantam patung-patung itu. Semuanya roboh, hancur berkeping-keping, kecuali satu patung yang paling akbar. Di patung sepaling besar itulah, Ibrahim mengalungkan kapaknya sebagai sebuah taktik jitu menguji keyakinan rakyat Babilonia. Keesokan harinya ketika rakyat Babilonia hendak beribadah, semua tiba-tiba histeris dan terperanjat bukan kepalang melihat tuhan-tuhan mereka telah roboh dan hancur. Mereka kalap, marah, dan langsung menyelidiki siapa gerangan pelakunya. Setelah mengulik informasi ke sana ke sini, sosok Ibrahim pun terkuak sebagai tersangka. Ia pun disidang di pengadilan Babilonia. Kepada para hakim, Ibrahim berkilah. Ia tidak mengakui bahwa tindakan anarki itu perbuatannya. Ia berdalih bahwa patung sepaling akbar itulah yang berbuat: “Bukankah kapak itu tergantung di lehernya? Tanyalah padanya!” Mereka tercengang dan meradang atas jawaban Ibrahim. “Mana bisa patung itu bicara?” Jawab mereka kesal. Akhirnya Ibrahim berkata kembali: “Tidak bisa!? Lalu, kenapa kalian masih menyembahnya? Setan telah memperdaya kalian. Kembalilah kepada Allah! Dialah Tuhan Yang Maha Esa.” Namun, orang-orang sesat memang selalu tak mau mengakui kekalahannya. Akhirnya, para hakim tetap memutuskan vonis mati Ibrahim dengan cara membakarnya hidup-hidup. Kita tahu, akhirnya, Ibrahim pun tak bisa melawan. Ia rela raganya dijilati api, tapi ia tidak ridha jiwanya terlalap si jago merah. Maka Ibrahim pun berpasrah diri. Pada detik-detik genting inilah, mulutnya dan hatinya basah oleh lafal ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’ [Cukuplah Allah sebagai penolongku, dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar]. Dan Allah mendengar doa lirih Ibrahim, hingga satu firman pun turun: “Hei api, jadilah dingin! Jadilah keselamatan bagi Ibrahim!” Dan api itu akhirnya tak mampu melahap tubuh Ibrahim. Ia selamat. Ia menumpas segala kegundahannya bersama kekuatan Ilahi yang bersemayam di kalbu-nya. Ibrahim tak sendiri. Junjungan kita, Rasulullah saw., pun mendedahkan doa senada tatkala sebagian tentaranya—M. Quraish Shihab melansir sebagian tentara itu bernama Nu’aim bin Mas’ud–bersikap setengah hati menghadapi pasukan musyrik yang senjata dan bekal perangnya lebih banyak. Ternyata kata hasbunallah wa ni’mal wakil yang ditutur Muhammad saw. itu langsung menepis rasa takut pasukannya hingga mereka mengucapkan hal serupa hingga iman mereka pun kian berkembang. [Lihat Tafsir Al-Misbah, Volume 2, hal. 265] Begitulah, Ibrahim dan Muhammad akhirnya mampu menggerus kecemasan jiwanya bersama energi Ilahi hasbunallah wa ni’mal wakil. Wajar bila keajaiban sukses pun berpihak di sisi mereka. Padahal, kita tahu, rasa gelisah mereka adalah bahaya maha dahsyat bernama maut. Dan kita, umatnya, juga Aziz dan Dinda, kadangkala seperti menggelepar sekarat bila sejumlah harapan duniawi kita punah sebelum waktunya. Kita tiba-tiba menjadi manusia yang paling malang. Sepi, sendiri dan hidup dalam jeri. Tidak hanya itu, kita –acapkali–menggugat Sang Khalik: ‘Ya Allah, kenapa hal ini terjadi dalam hidupku?’ Pada titik inilah, saya pikir, lirik Opick di atas terasa menggedor-gedor nurani:Bila hatimu goyah/ Terluka, merana/Jauhkah hati ini dari Tuhan, dari Allah? Kegelisahan Negatif atau Kegelisahan Positif? Heidegger, seorang filsuf Jerman abad 20, suatu kali pernah menta’rifkan kegelisahan atau kecemasan (angst) sebagai berikut: suasana hati dasariah yang menyingkap ketakberumahan dan ketakberkampunghalaman manusia. Bila kondisi ini bermukim di dalam hati kita, maka itu sebuah proses tersingkapnya kesadaran diri kita dari ketakberumahannya kita di dunia ini. [lihat Heidegger dan Mistik Keseharian, F. Budi Hardiman, hal. 139] Oleh karena itu, rasa ini sejatinya semakin meneguhkan ihwal kefanaan manusia, ketidakkekalan dirinya di jagad dunia ini. Tak aneh, bila Allah mencap ciptaan-Nya ini sebagai mahluk yang berselimut keluh kesah dan gelisah. “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah..” [QS. Al-Ma’aarij: 19] Sayangnya, suasana gelisah ini seringkali menggiring manusia pada keyakinan bahwa rumah dan kampung halamannya yang hakiki itu berada di dunia. Hal ini, bisa dilihat dari kenestapaan yang umumnya membuat kita larut dalam kecemasan dan kegelisahan yang parah. Saya menyebut kondisi ini dengan kegelisahan negatif; sejenis kegelisahan yang meringkus harapan dan semangat hidup seseorang untuk berani melangkah lagi. Pada titik ini, lazimnya, orang akan cenderung tidak kreatif, mengeluh, marah-marah, dan bertindak impulsif. Jiwanya tidak tenang, dan hatinya rusuh oleh segenap peristiwa pahit yang menimpanya. Ia lupa bahwa kemalangan, kekecewaan, dan kegelisahan ini adalah kesementaraan. Karena itulah, saya sepakat ketika filsuf Epictetus mengatakan bahwa manusia tidak diganggu oleh peristiwa-peristiwa, melainkan oleh pandangannya sendiri tentang peristiwa-peristiwa itu. Begitu pula dengan manusia yang mengelola kegelisahannya secara negatif. Ia melihat peristiwa yang tengah menyusahkannya itu semisal kutukan, selayak kelam yang berjelaga. Sebaliknya, bila seseorang melihat kejadian pahit yang melandanya itu sebagai sebuah berkah, seumpama anugerah tersembunyi yang suatu saat akan menyembul tiba-tiba, maka ialah sosok yang saya sebut sebagai manusia yang memiliki kegelisahan positif. Pada titik ini, seseorang berusaha mengoptimalkan segenap energi kreatifnya semaksimal mungkin. Ia berpikir positif, tidak mengeluh, dan mengerahkan segala potensinya agar tidak larut dalam kecemasan, dalam keterpurukan. Ia, menurut sufi Hazrat Salahedin Ali Nader Angha, adalah karakter yang senantiasa menganggap peristiwa-peristiwa pahit sebagai sesuatu yang tidak “buruk”, melainkan lebih merupakan pengalaman-pengalaman yang darinya kita bisa belajar untuk lebih dewasa. [lihat Soraya Susan Behbehani, Ada Nabi dalam Diri, Melesatkan Kecerdasan Batin Lewat Zikir dan Meditasi; hal.182) Ia percaya bahwa Sang Pemilik Maha, Allah azza wa jalla, tengah menyingkap tabir mukjizat-Nya. Ia yakin bahwa Allah sedang menyibak sandi-sandi rahasia-Nya hingga ia menemukan sebuah pintu keberkahan yang tidak disangka-sangkanya. Pada momen seperti inilah ia berusaha menjadi manusia yang mengaktualisasikan dirinya sebesar mungkin. Ia gali lagi potensi, bakat, dan kapasitas kemampuan yang selama ini dimilikinya. Bahkan seorang psikolog bernama Abraham Maslow dalam buku Motivation and Personality-nya menganggap orang-orang seperti inilah yang layak disebut orang-orang sukses. Dan saya yakin, kegelisahan positif ini tidak tumbuh menyelubungi jiwa seseorang begitu saja. Ia bukan sesuatu yang taken for granted. Ia hadir ketika keyakinan hati seorang hamba menerbitkan Allah di sisinya. Ia tempatkan Sang Rahman sebagai Sahabat dan Penolong sejatinya seraya terus melafal-lafal hasbunallah wa ni’mal wakil di lidahnya, di hatinya. Barangkali, tak aneh bila Simone Weil, intelektual kiri yang berubah menjadi seorang mistikus abad 20, berkata begini, “Bagi manusia spiritual (beriman), kemalangan menimbulkan perasaan bahwa Tuhan telah meninggalkan Anda. Tetapi, jika Anda bisa bangkit dari kegelapan, iman Anda akan jadi lebih dalam dan Anda akan merasakan salah satu misteri besar kehidupan.” (Lihat Tom Butler-Bowdon, 50 Spiritual Classic; hal.369) Semoga saja Aziz, Dinda, dan siapa yang tengah dilanda gelisah tengah bersiap menyongsong satu misteri besar itu. Wallahu’alam bilshawab.
Sumber rujukan:
- Soraya Susan Behbehani, Ada Nabi dalam Diri, Melesatkan Kecerdasan Batin Lewat Zikir dan Meditasi; Penerbit Serambi, Juni, 2003; hal 182)
- [lihat 50 Self-Help Classics, Tom Butler-Bowdon, lihat 268]
- (Lihat 50 Spiritual Classic, hal.369)
- (Lihat Heidegger dan Mistik Keseharian, F. Budi Hardiman, KPG, 2003)
- Terapi Doa Al-Qur’an, Muhammad Mahmud Abdullah, Mizania, 2006]
- Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab, 267, Volume 2)
- M. Zaka Alfarisi, Kisah Seru 25 Nabi dan Rasul, Dar Mizan.
January 31, 2008 at 6:42 am
[...] [satu dOa ketika gelisah meRuyak] http://amuaz.wordpress.com/2007/11/13/satu-doa-ketika-gelisah-meruyak/ [...]