Sebuah Doa Ketika (Hampir) Putus Asa
“La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazhalimin.”“Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”)(QS. al-Anbiya [21]: 87)
Padamulanya adalah mimpi. Dan segumpal gundah gulana serta rasa duka yang menghantui saya, tiba-tiba, berangsur-angsur pulih karenanya. Malam itu, (saya lupa kapan persis tanggalnya), ketika hati saya berwarna kelabu dan air mata hampir mengharu biru (dasar cengeng!) lantaran sebuah persoalan hidup yang belum kunjung rampung, sepotong mimpi mampir di dalam tidur saya:
Seorang laki-laki tua, almarhum kakek saya, bersama seorang pria paruh baya (yang saya tidak kenal jelas identitasnya) datang menghampiri saya. Pakaian mereka serba putih dengan surban berwarna senada melilit di kepalanya. Saya tidak kaget, tidak juga terhenyak (namanya juga mimpi!). Mereka berhadap-hadapan dengan saya. Kakek saya terdiam di belakang si lelaki paruh baya. Ia hanya berdiri mengamati. Sementara lelaki paruh baya, tanpa basa-basi memberi salam, tiba-tiba berkata: “Jangan trauma! Jangan bersedih! Baca “La illaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazhalimin” setiap habis shalat fardhu.
Saya pun terjaga di pukul 4 dini hari menjelang Subuh. Syahdu. Ragu. Dan saya membisu. Sebuah tanda tanya hinggap di batin saya: Ya Allah, apakah mimpi ini penawar duka yang kau nubuatkan untukku? Mimpi itu memang sebentar. Tapi, ia serupa kilat, yang cahaya dan gelegarnya begitu membekas selepas tiada. Siapa lelaki paruh baya itu? Dan bacaan itu, bacaan yang dianjurkan untuk berdoa itu begitu lekat di benakku, Ya Allah. Seperti bunyi ayat. Hmmm. Beberapa tanda tanya itu menggedor-gedor nurani saya.
Di kantor, saya langsung membuka kitab Fath ar-Rahman (semacam buku indeks al-Qur’an berbahasa Arab yang memudahkan seseorang untuk mengetahui kepastian ayat dan surah atas sebuah firman Allah. Biasanya, metode mencarinya berdasarkan kata kerja yang ada dalam firman tersebut). Eureka! Dugaan saya tak meleset. Kata yang dianjurkan lelaki paruh baya itu adalah ayat 87 dalam surat al-Anbiyaa; sebuah ayat yang dibaca Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan paus. Begini bunyi lengkap ayat tersebut: “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazhalimin.” (Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”) Kuriositas saya pun terjawab. Dalam literatur asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya suatu ayat) dikisahkan: Sejarah mencatat bahwa Nabi Yunus adalah penyampai risalah agama Allah yang hanif kepada kaum Ninawa, sebuah daerah di sekitar kota Moshul, Irak. Ia bertanggung jawab meluruskan keyakinan kaum Ninawa yang masih menyembah berhala sebagai Tuhannya. Namun, selama 30 tahun berdakwah, tak banyak yang beriman. Hanya dua orang saja yang mengikuti seruanya: Rubil dan Tanukh. Dan Yunus pun kesal. Ia hampir putus asa. Allah pun memberi kesempatan kedua selama 40 hari kepada kaum Ninawa. Sayang, kesempatan itu tidak juga membuat kaum Ninawa bertaubat. Yunus kesal dan jengkel. Ia pun meninggalkan kaumnya. Ia berharap agar azab yang diwanti-wanti itu langsung menimpa kaumnya yang membangkang. Rupanya, sepeninggal Yunus, azab Allah menampakkan tanda-tandanya pada kaum Ninawa: Langit hitam pekat, menggumpal-gumpal. Kota Ninawa gelap gulita. Angin bergemuruh dahsyat. Hewan-hewan gelisah ketakutan. Dan penduduknya cemas dan panik. Pada saat itulah, hidayah Allah menyinari kaum Ninawa. Mereka menyesal, bertaubat dan menyadari betapa Yunus adalah Nabi, adalah pembawa pesan kebenaran. Allah Maha Penerima Taubat. Azab itu tak jadi turun. Namun sayang, Yunus telah pergi dengan hati yang kesal, putus asa dan berduka. Sementara itu, di lain tempat, Yunus sedang mempertaruhkan hidupnya. Ia sedang mengundi nasib dengan para penumpang perahu yang ditumpanginya: sebuah undian untuk membuang salah satu penumpang ke laut agar perahu tidak oleng dan tenggelam karena badai dahsyat tengah bergejolak. Sayang, setelah tiga kali diundi, Yunus kalah. Sebagai seorang Nabi, Yunus merasa semuanya adalah kehendak Allah. Ia pun pasrah. Ia menyesali tindakanya meninggalkan kaum Ninawa. Padahal, semestinya, ia menunggu perintah Allah sebelum hengkang. Yunus tak ingin berlama-lama. Ia pun langsung menceburkan diri ke laut. Tubuhnya langsung digulung ombak. Allah Maha Penyelamat. Pada saat itulah, seekor paus melahap tubuhnya bulat-bulat (berkaitan dengan inilah, Yunus kemudian dikenal dengan sebutan Dzun Nun—Si Empu Paus). Di dalam perut paus yang gulita, pengap, amis dan menyengat itulah puncak kesedihan Yunus menjadi-jadi. Hanya ada satu pekerjaan yang dilakukannya: berzikir dan berdoa kepada Allah agar dilepaskan dari ujian berat itu. Dan Yunus pun berdoa, “La ilaha illa anta. Subhanaka inni kuntu minazhalimin.” (Cerita ini saya sadur dari Kisah Seru 25 Nabi, M. Zaka Alfarisi, Mizan: 2005)
Membaca historical background (latar belakang sejarah) doa yang dibaca Yunus ini, saya terharu bercampur malu; malu pada diri sendiri, malu pada Allah swt. Pada momen inilah, saya merasa beruntung sekali menjadi hamba-Nya. Saya bukan hanya menemukan mutiara doa dari al-Qur’an, tapi juga resep obat jiwa agar diri tidak larut dalam duka dan derita, dalam putus asa dan gundah-gelisah. Maka tak aneh, pada ayat selanjutnya, satu janji Allah telah genapkan: “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkanya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. al-Anbiyaa [21]: 88)
Sebagai manusia yang imannya acapkali berfluktuasi tak menentu, saya menghikmati dua poin penting:Pertama, Allah menguji tingkat kesabaran kita –yang seharusnya tak berbatas (soalnya sebagian kita sering komentar ‘kesabaran kan ada batasnya’)– hingga sebuah jawaban yang dijanjikan-Nya itu datang menghampiri kita. Bukankah, dalam firman yang lain, Allah azza wa jalla juga menyeru hamba-Nya untuk senatiasa minta pertolongan dalam kondisi bersabar, “Minta tolonglah kamu sekalian (kepada Allah) dengan bersabar dan shalat! Sesunggguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah [2]: 153). Bersabar itu, wahai saudaraku, ibarat seorang pengangguran yang sudah lama menanti sebuah pekerjaan dari beberapa perusahaan yang dikiriminya surat lamaran. Nah, ketika tawaran pekerjaan itu memanggilnya, hatinya berbunga-bunga, bahagia tak terkira. Segepok uang terbayang-bayang di matanya. (Alhamdulillah, akhirnya aku punya gaji pertama! katanya).Kedua, penderitaan dan duka sejatinya bukan sebuah keputusan yang ditetapkan Allah. Ia bukan datang dari atas sana. Ia ada di dalam diri kita. Ia adalah realitas (kenyataan) subyektif kita. Ia bukan musibah yang, kata para filsuf, disebut dengan realitas objektif. Dan realitas objektif ini, menurut filsuf Soren A. Kierkegard, itu hanya ada dan diketahui Allah, bukan oleh manusia. Sementara penderitaan adalah sejumlah gambaran di dalam benak kita (pictures in our mind). Ia adalah persaan pedih di dalam jiwa kita (lihat Meraih Kebahagiaan, Jalaluddin Rakhmat: 2004) Itu artinya, penderitaan adalah persoalan bagaimana kita menyikapinya. Kita yang berhak memilihnya: Apakah kita ingin terkurung dalam tempurung derita atau ingin terberkahi dalam jiwa yang tenang dan bahagia? Karena itu, bagaimanapun juga, manusia harus berani memilih bagaimana cara ia akan hidup di dunia, atau cara ia berada dalam dunia. Kierkegard berpendapat bahwa dalam eksistensinya, manusia memang akan terus menerus ditantang untuk memilih dan membuat keputusan. Melalui keputusan yang diambil dan komitmen yang diberikan itulah, orang menjadi dirinya sendiri. Inilah yang kerap disebut dengan pergulatan eksistensial (lihat Kierkegard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri, Thomas Hidya Tjaya, Gramedia: 2004). Dan Nabi Yunus, dalam hikayah di atas, menyadari dirinya telah memilih keputusan yang kurang tepat hingga beliau buru-buru bertaubat dan kembali memohon kemurahan-Nya agar terbebas dari kondisi pahit yang sedang dialaminya. Saya sadar bahwa doa Nabi Yunus yang dianjurkan lelaki paruh baya dalam mimpi saya itu adalah juga sebentuk peringatan Allah agar saya tetap optimis, bersabar, serta memilih jalan tidak menderita dan berduka.
Apalagi setelah saya baca Tafsir Ibnu Katsir ihwal ayat 87 ini. Padanya dijelaskan, meski doa ini milik Yunus, tetapi doa ini juga milik seluruh kaum mukmin. Untuk itu, jika seorang mukmin dalam penderitaan dan kesulitan, kemudian berdoa dengan ini, maka Allah akan mengabulkanya. Sebab Rasulullah saw., dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad pun menganjurkan umatnya untuk membaca doa Dzun Nun ini. Saya bahagia membacanya, dan saya berharap Anda pun mengamini hal yang sama. Wallahu’alam bilshawab. [Esai ini pernah dimuat Majalah Hidayah, Edisi 64]
November 13, 2007 at 6:51 am
Hai, ini adalah komentar,
Untuk menghapus komentar, silakan login dan lihat komentar pada postingan, disitu Anda dapat mengedit atau menghapusnya.