Doa Sang Pecinta

 Ia tidak akan membiarkanmu lari dari-NyaIa akan menyimpan hatimu dalam hati-Nya, siang dan malam. (Baha’i Walad dalam Ma’arif) 

Suatu hari, sebuah pesan pendek (sms) mampir di ponsel saya. Dari Syarif, seorang sahabat karib saya sewaktu masih berseragam putih abu-abu dahulu. Begini bunyinya: Akhi, kenapa yah Allah swt. belum juga mengabulkan doaku? Adakah yang salah dengan diriku? Padahal aku sudah shalat Tahajud, puasa Senin-Kamis dan berdoa hampir setiap malamnya. Saya tercekat dengan sms-nya, dan saya tidak langsung membalasnya. Saya teringat Andri (30 tahun), tetangga saya yang sebelumnya mengeluhkan hal yang sama: doa yang belum juga dimakbul Allah azza wa jalla.  Ia menggerutu ihwal pekerjaannya yang masih itu-itu saja: seorang  karyawan kecil dengan  gaji yang tak seberapa. Padahal, ia mesti menghidupi istri, seorang anak dan mengirim sejumlah uang untuk kebutuhan orang tua dan adik-adiknya yang masih sekolah di kampung. Lalu, bermodalkan sepenggal firman Allah yang berbunyi, “Berdoalah pada-Ku, niscaya Ku-ijabah permohonanmu…” (lihat QS. Al-Mu’min [40]: 60), ia menyimpan secuil asa pada Ilahi. Ia ingin penghasilan yang lebih baik. Ia melamar lagi pekerjaan ke berbagai perusahaan. Ia pun shalat dan berdoa di hampir setiap sepertiga malam yang dingin. Kepada Allah, ia menghiba segenap hasrat yang sangat diidam-idamkanya itu. Tapi, setelah sebulan lamanya berharap-harap cemas dalam doa, Sang Maha Kaya belum juga mengijabah permohonannya. Ia kecewa. Ia pun mulai meragukan janji Tuhan pada firman tersebut. Saya terhenyak mendengar keluh kesahnya. Dan saya yakin betapa banyak muslim selain Andri dan Syarif  yang mengalami hal serupa. Saya sendiri pun sejujurnya pernah merasakannya. Biasanya,  kita akan bertanya-tanya dan protes pada Allah bila doa kita belum juga dikabulkan-Nya. Tiba-tiba, saya gelisah dengan perkara ini. Bagaimanakah seseorang seharusnya memaknai doa? Pertanyaan ini benar-benar memburu batin saya.             Namun, Allah Maha Pemberi Ilham. Tiba-tiba, saya teringat kisah Nabi Zakaria as. yang doanya dikabulkan Allah setelah ia berdoa sepanjang 60 tahun agar mendapatkan keturunan. Saya terkenang-kenang kisah Nabi Musa as. yang doanya dikabulkan Allah setelah 40 tahun lamanya berdoa demi keruntuhan Fir’aun.             Pada kisah Nabi-Nabi Allah itulah seharusnya ego kita hancur lebur dalam kepasrahan diri ketika berdoa pada-Nya. Karena betapa tidak layaknya kita menuntut Allah untuk segera mengabulkan doa, sementara kita, tiap harinya, bergumul dengan dosa; entah itu dosa perbuatan, dosa perkataan, maupun dosa hati.             Sedangkan mereka, para Nabi yang menjadi duta Allah di muka bumi dan terbebas dari dosa itu malah tak henti-hentinya berdoa. Bahkan, dalam suatu hadits, Nabi Muhammad saw., junjungan kita yang ma’shum dari dosa itu, disebutkan senantiasa memanjatkan doa ampunan Allah  (istigfar) sebanyak 70 kali dalam setiap harinya.             Maka tak aneh, bagi umatnya yang pendoa, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Doa seseorang senantiasa dikabulkan selama dia tidak berdoa dengan menyandang dosa (masih melakukan tindakan dosa), atau memutuskan silaturahmi, dan selam dia tidak terburu-buru. Nabi ditanya, “Ya Rasulullah, apa maksud terburu-buru itu?” Rasulullah saw. menjawab, “Pendoa mengucapkan ‘Aku telah berdoa dan berdoa’ tetapi belum juga dikabulkan,’ sehingga dia merasa jengkel lalu tidak berdoa lagi.” (HR. Bukhari Muslim)Bagi saya, cukup mafhum kenapa Nabi saw. mewanti-wanti ihwal ‘terburu-buru’ ini. Karena berdoa, pada hakekatnya, adalah  sebentuk dialog antara yang lemah kepada Yang Kuat; semacam komunikasi antara yang berkeluh kesah kepada Sang Penghapus Gelisah; serupa permintaan seorang hamba kepada Tuannya. Namun sayang, kita seringkali tidak dapat mengkomunikasikannya dengan apik dan baik, hingga tak jarang posisinya menjadi terbalik. Seorang pendoa acapkali memperlakukan Allah swt. menjadi Sang Pelayan yang dapat memenuhi kehendaknya sesegera mungkin. Seorang pendoa menjadi seperti seorang hamba yang memaksa Tuannya untuk meluluskan keinginannya secepat mungkin. Dengan kata lain, Allah swt. ‘dipaksa’ hamba-Nya untuk mengabulkan segala doanya.             Karena itulah, layakkah sebuah permintaan kepada Sang Maha Rahman diekspresikan dengan cara tergesa-gesa seraya memaksa? Namun, Allah sungguh Maha Adil dan Bijaksana. Meski Rasul-Nya telah memberi peringatan tentang bagaimana seharusnya berdoa. Dia tetap tidak menampik doa para pendoa yang tergesa-gesa itu.             Dia pun begitu merindukan pendoa yang larut dalam suasana penantian yang panjang. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah berkata kepada para malaikat: “Di sebelah sana ada hamba-Ku yang fasik, banyak berbuat dosa, berdoa kepada-Ku. Penuhi permintaanya dengan segera! Karena Aku sudah jera mendengar suaranya. Di tempat yang lain, ada seorang hamba-Ku yang saleh sedang berdoa kepadaku. Tangguhkan permintaanya! Karena Aku senang mendengar rintihannya.” (lih. KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam buku Memaknai Kematian)            Pada poin inilah, saya mencatat dua hal yang kiranya patut dicermati. Pertama, tidak ada doa yang tidak diterima. Semuanya pasti maqbul. Semuanya pasti diijabah. Semuanya hanya soal waktu. Tapi, tentu saja, pengecualian bagi para pada pendoa yang tidak menjalankan perintah-Nya, yang tidak bernaung dalam iman kepada-Nya.            Sebagaimana  titah  Allah, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya  Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”  (QS. al-Baqarah (2): 186)            Pada satu aforisme yang termaktub dalam kitab al-Hikam, Ibnu ‘Atha’ilah mengatakan, “Bagaimana bisa permohonan yang datang belakangan menjadi sebab pemberian Allah yang telah sebelumnya diputuskan. Apapun bersandar pada kehendak Allah, sementara kehendak Allah tidak bersandar pada apapun.”            Ihwal aforisme ‘Atha’ilah yang satu ini, Syekh Fadhlalla Haeri menafsirkan bahwa kemurahan dan kedermawanan Allah swt. selalu ada dan sesuai dengan kehendak-Nya yang sudah ada terlebih dahulu. Ia tidak tunduk atau disebabkan oleh permohonan dan doa kita.             Perkataan ‘Atha’ilah ingin meneguhkan bahwa berdoa bukan perkara kausalitas: sesuatu yang bisa ditilik berdasarkan hukum sebab-akibat. Ia bukan masalah yang dapat diselidiki dalam pendekatan logika yang membuat kita berpikir bahwa karena kita minta A, maka Allah memberikan B. Sebab, jauh-jauh hari, Allah telah menentukan segala kebaikan, kemurahan dan kedermawanan-Nya kepada kita. Namun, karena kita tidak tahu seberapa besar kadar kemurahan dan kedermawanan itu, maka Dia perintahkanlah hamba-Nya untuk terus berdoa, untuk terus berusaha semaksimal mungkin. Karena itulah, kiranya masuk akal bila Aa Gym, dalam setiap ceramahnya selalu menekankan kata ‘marilah kita ‘menjemput’ rezeki (baca: kemurahan Allah),  bukan kata ‘mencari’. Sebab rezeki kita memang sudah disediakan Allah, tinggal bagaimana kita menjemputnya dengan ikhtiar semaksimal mungkin.               Kedua, Doa sang pencinta. Dalam doa, hakekatnya, Allah menuntut rasa cinta kita pada-Nya, bukan sederet kebutuhan yang kita sodorkan agar diluluskan-Nya. Allah menuntut sebuah ekspresi seorang kekasih dengan diri-Nya. Tak aneh bila sufi Ibnu ‘Atha’ilah mengatakan, “Janganlah permohonanmu itu engkau anggap sebagai pemberian Allah, sehingga menjadi berkurang pemahamanmu mengenai-Nya. Hendaknya permohonanmu adalah demi menunjukkan penghambaanmu dan pemenuhan hak-hak Allah (ketuhanan).”             ‘Penghambaan’ dan ‘pemenuhan hak-hak Allah’ itulah yang penulis maksud sebagai rasa cinta yang harus memenuhi jiwa seorang hamba ketika berdoa. Bila niat ini yang dikedepankan, bukan mustahil bila seorang pendoa adalah seorang muslim yang saleh,  penyabar, dan ikhlas. Ia menjadi seorang pencinta yang rindu bertukar tangkap dengan Ilahi kapan dan dimanapun saja ia berada. Ia menjadi seorang pendoa yang akan terus berdoa dalam kondisi suka maupun duka, dalam keadaan sempit maupun lapang, dalam miskin maupun kaya, dalam tersenyum ataupun berurai airmata.

             Ia sadar bahwa, “Cinta tidak berhutang dan tidak berpiutang. Cinta tidak dapat dibeli, tidak dapat dijual. Kalau dia memberikan, adalah memberikan semua. Kalau dia mengambil, adalah mengambil semua. Dia selalu cukup sebagaimana adanya, tidak pernah berlebih dan tidak pula kurang. Begitu tempo hari, begitu kini dan begitu pula selama-lamanya.” (lihat HAMKA dalam esai bertajuk Seni dan Cinta, Horison Esai Indonesia, 2003)

            Doa dengan ekspresi cinta inilah, pada akhirnya, yang membuat saya mengerti kenapa Allah menyayangi nabi-nabinya, merindukan  wali-walinya, menyenangi hamba-hamba salehnya. Merekalah yang membuat Allah swt. begitu menyenangi ketika mendengar rintihannya dalam berdoa. Itulah doa sang pecinta yang membuat Allah senantiasa ‘menyimpan hatinya di dalam hati-Nya, siang dan malam’  seperti  puisi yang saya kutip dari Baha’i Walad, di atas.              Wajar bila Jalaluddin Rumi, sang sufi tersohor itu sempat berdendah, “Dan semua upayamu untuk mendekatkan diri kepada-Ku, tak lain adalah syarat bahwa Aku mendekatkan dirimu kepada-Ku. Kepedihan dan upayamu yang penuh cinta: tanda-tanda rahmat-Ku! Dalam setiap “Ya Tuhan” ada seratus “ Di sinilah Wajah-Ku!”  Wallahu’alam bilshawab. (mz_bdl@yahoo.com)