enjoy your life!

Dulu, sewaktu belajar filsafat di masa mahasiswa, ada satu istilah dari Martin Heidegger, filsuf  kenamaan Jerman, yang menjejak di benak saya. Sang filsuf  dalam karya masyhurnya, Sein und Zeit,  itu pernah mengkritik waktu –yang disebutnya– Innerzeitigkeit.* [Anda tak perlu bersusah payah melafalkanya, karena lidah saya sendiri juga sering keseleo untuk melisankanya. Karena menghargai usaha intelektualitas si filsuf-lah, saya merasa wajib untuk menyebutkannya.]

 Kira-kira, beginilah maksudnya. Innerzeitigkeit itu waktu yang kita lalui dalam hitungan matematis menurut kalender, jam, menit, hari, dan seterusnya. Ia merupakan durasi yang acapkali kita anggap sebagai masa lalu, sekarang, dan masa depan. Ia  menjadi tolak ukur semua aktivitas kehidupan umat manusia dunia. Inilah waktu obyektif; waktu yang direncanakan, dipola dan dipahami secara bersama dalam kesibukan sehari-hari. Kita terbiasa mengontrol dan dikontrol oleh waktu obyektif ini.

Ia biasa mendikte kehidupan manusia untuk melakukan aktivitas sesuai jadwal yang sudah direncanakanya. Nah, berada dalam pusaran waktu obyektif inilah, menurut hemat penulis, manusia seringkali gagal untuk bersyukur. Ia bersalin rupa menjadi manusia kufur; entah ia pribadi dengan sejumlah cemas dan gelisah dalam menapaki masa depannya, atau pun pribadi dengan sehimpun luka dan trauma dari masa lalunya.

Dan kalaupun berada pada masa kini, manusia kufur adalah sosok dengan pikiran dan hati yang bertukartangkap diantara dua kutub itu; masa depan dan masa lalu yang sama-sama tak nyaman dan aman. (more…)

Pembaca, apakah Anda merasa ramadhan tahun ini begitu cepat menyapa Anda lagi? Bukankah baru kemarin, rasanya, Anda berpuasa dan bersuka ria merayakan lebaran; mudik ke kampung halaman, bersua handai taulan? Jika ya. Idem ditto. Saya dan  segenap kru redaksi Hidayah pun merasakan hal yang serupa. Beberapa pertanyaan berkerumuk di benak kami: Apakah tabungan ibadah yang sudah kita capai selepas ramadhan tahun kemarin?  Adakah pendakian spiritualitas yang sudah kita torehkan itu bergerak kian baik atau hanya bergeming di satu titik pasca berpuasa tahun lalu? Simpanlah rapat-rapat di renik sanubari Anda bila Anda menemukan jawabannya. Biarkanlah jawaban itu menjadi dialog batin Anda dengan Sang Pemilik Jiwa, Allah azza wa jalla.

Ramadhan yang terasa cepat ini, menurut saya, meneguhkan tiga catatan: Pertama, berbahagialah Anda karena masih diberi kesempatan untuk beribadah puasa lagi, mengail kembali pahala dan pelbagai bonus kemurahan Allah di tuan segala bulan ini. “Puasa adalah untuk-Ku. Dan Aku-lah yang akan membalasnya,” demikian firman Allah dalam satu hadits Qudsi. Betapa dahsyat ibadah yang satu ini hingga Dia, Sang Khalik kita, yang langsung turun tangan mengganjar kebaikannya. Maka, bersiap siagalah menyongsongnya dengan hati yang lapang dan bahagia. Sebab, kita tidak tahu, akankah tahun mendatang masih ada ruh yang menghuni tubuh kita.

Kedua, inilah momen meneropong kembali pencapaian spiritualitas yang selama ini sudah kita amalkan selama pasca ramadahn kemarin. Apakah ibadah kita sudah lebih baik? Apakah kita masih berkutat puasa lahir [baca: menahan lapar dan haus] semata, atau justru sudah mulai belajar puasa batin [baca: menahan hawa nafsu]? Apakah kita sudah semakin bermanfaat untuk orang terdekat atau orang di sekitar kita yang mengalami kefakiran dan kekurangan? Hal ini menjadi penting karena tanda diterimanya ibadah puasa seseorang itu, sabda Nabi, ketika ia menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Ketiga, hari pembalasan itu, ternyata, sudah begitu lekat. Hal ini bisa ditilik dari senarai tanda-tanda akhir zaman yang pernah disinggung Nabi bahwa salah satu tanda kiamat akan tiba itu ketika waktu terasa begitu cepat.  “Sungguh tanda-tanda akhir zaman adalah waktu akan menjadi pendek, pengetahuan akan menyusut, penderitaan kian tersebar, penyakit kian bermunculan, dan semakin banyak terjadi harj.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apakah harj itu?” Beliau menjawab, “Pembunuhan…Pembunuhan…!” [HR. Bukhari]

Dalam sehari saja, kadang, kira merasa bukan lagi masa yang panjang. Waktu yang menyusut kian cepat membuktikan bahwa bumi tempat kita menghirup kehidupan kian tua. Alam yang dieksploitasi manusia, pemanasan global, laju kriminalitas yang  naudzubillah beragam dan sadisnya, hingga gaya hidup manusia yang ‘error’ di zaman kini. Semua menjadi tanda yang mempercepat akhir dunia ini. Entah kapan? Wallahu’alam. 

Untuk itu, mari kita kembali memanfaatkan ramadhan 1429 H ini dengan sebaik-baiknya, sebagus-bagusnya. Sebagai pemotivasi ibadah puasa Anda, berikut kami sajikan tulisan seputar amal-ibadah selama Ramadhan, yang semoga dapat berlanjut selepas Ramadhan kelak. (more…)

Senjakala Pluralisme Indonesia*

  Will Kymlicka,  dalam pengantar buku bertajuk Multicultural Citizenship, pernah menuturkan penderitaan kaum minoritas:  Some minorities were physically eliminated, either by mass expulsion (what we now call ‘ethnic cleansing’) or by genocide. Other minorities were coercively assimilated, forced to adopt the language, religion, and customs of majority. In yet other cases, minorities were treated as resident aliens, subjected to physical segregation and economic discrimination, and denied political rights.”[i]            

Dus, berada di lingkungan kaum mayoritas, bukan hanya derita fisik berupa ‘pembersihan etnis’ atau pemusnahan sebuah kelompok (genosida) yang harus ditelan mentah-mentah kaum minoritas, tapi juga luka jiwa dan identitas tatkala sebagian mereka dipaksa mengadopsi bahasa, agama, dan tradisi (kebasaan-kebiasaan) kaum kebanyakan tersebut.            Lebih dari itu, seperti disitir Will, segenap kaum minoritas acapkali diperlakukan tak ubahnya serupa resident aliens [mahluk-mahluk asing yang menetap], para manusia ‘lain’ yang keberadaanya patut di’stabilisasi’. Tak aneh, sederet kisah penderitaan fisik, diskriminasi ekonomi, pengabaian hak-hak politik seringkali menimpa mereka. Hal inilah, misalnya, yang membuat saya prihatin dan concern dengan isu-isu kaum minoritas, entah itu minoritas etnik, kelompok agama, dan lain-lainnya. Terlebih, empat tahun belakangan ini, ketika kakak kandung saya mendapat cap anak yang sudah ‘sesat’ dan ‘murtad’ lantaran totalitas dirinya di Komunitas Eden yang dipimpin Lia Aminuddin; sebuah komunitas agama yang menurut fatwa MUI menyesatkan. Saya merasakan juga betapa sulit dan pedih menjadi dirinya yang memiliki keyakinan dan pilihan keberagamaan secara otonomi individual. Latar belakang keluarga besar kami yang NU totok [apalagi kakek dan paman saya terkenal sebagai para kyai di daerahnya] membuat penderitaan jiwa dan identitas kakak saya menyusup juga perlahan-lahan secara psikologis ke dalam diri kami sekeluarga. Apalagi ihwal Komunitas Eden pernah ramai menghiasi media televisi yang memungkinkan diakses dengan nalar yang juga serba ‘superfisial’. (more…)

Next Page »